Senin, 06 Juli 2015

PERKENALKAN BANK SAMPAH KE WARGA JANGAN BERHENTI !

Masih mengangkat isu sampah, seperti tidak ada habisnya. Sekarang saya akan berkunjung ke kawasan padat penduduk , di sekitaran kelurahan Padasuka. Banyaknya gang yang harus saya lewati sempat membuat sedikit pusing dengan perjalanan kali ini, sesekali bertanya alamat ke warga dan tidak semua warga tahu dengan alamat yang saya tanyakan. Namun hasil dari usaha saya bertanya terjawab ketika saya sampai di tempat pangkalan ojek. Beberapa Orang di sana cukup baik dengan menunjukan alamat yang saya tuju meski tidak langsung tepat pada tempatnya, Setidaknya ada petunjuk yang lebih mendekati bagi saya.


Sampailah di wilayah Rw 10 kel. Padasuka, saya bertemu dengan seorang ibu yang sedang asyik berbincang bincang dengan temannya. Kala itu saya putuskan untuk bertanya kembali untuk mencari alamat yang akan di datangi. Ibu itu dengan baik hati mengantarkan saya sampai depan kediaman bu cucu pengelola bank sampah di wilayah sekepondok. Ternyata sesampainya disana orang yang akan saya wawancara yaitu bu cucu sedang tidak ada di rumah. Informasi itu saya dapat dari Bapak Ketua Rw 11 yang rumahnya tepat di depan rumah bu cucu. Pak Rw lalu menanykan maksud kedatangan saya, setelah di jelaskan beliau akhirnya mengantarkan saya ke rumah salah satu pengurus bank sampah di wilayahnya.

 Rumahnya tidak jauh dari Ruang serba guna Rw 11, ketika itu yang saya kunjungi ternyata benda hara bank sampah. Alhamdulillah saya di terima sebagai tamu oleh beliau, dengan terlihat sedikit wajah tegang dengan kedatangan saya. Akhirnya wajah ibu itu kembali terlihat tenang setelah saya menjelaskan maksud dari kedatangan saya ke rumahnya. Beberapa data mulai ibu itu berikan kepada saya, mulai dari hal kecil sampai curhatannya sebagai salah satu pengurus bank sampah. Menurutnya Bank sampah di sini di beri nama Bank sampah sega mandiri yang di ambil dari nama wilayahnya sekepondok tiga ( sega ). Tempat yang biasa di pakai untuk mengelola bank sampahnya masih menggunakan Ruang serba guna Rw 11 yang berlokasi di jl. Cikutra Gg. sekepondo tiga Rt 07/11 Kel. Padasuka kec. Cibeunying kidul Kota Bandung.


Tampak depan Bank sampah sega Mandiri
Di sinilah awal berdiri nya Bank Sampah Sega Mandiri, Ibu ibu Pkk sebagai penggerak tercetusnya Bank sampah di sana sampai sekarang tetap semangat memberikan informasi terkait kegiatannya, meski masih banyak warga yang belum mengerti apa itu Bank sampah. Namun usaha ibu ibu di sana pantang menyerah untuk terus menjalankan keberadaan bank sampahnya. Sekarang di bulan juni 2015 nasabahnya sudah mencapai 40 orang, padahal awalnya lebih dari itu. Tidak sampai disitu kendala yang di hadapi Bank Sampah Sega Mandiri dengan belum adanya bantuan dari pihak luar membuat sebagian pengurus di sana satu persatu angkat kaki dan memilih tidak terlalu aktif. Padahal awal terbentuknya Bank sampah ini dari kegiatan bersih bersih warga yang sampahnya di jual ke pengepul. Harapan muncul dari pengurus yang masih aktif yaitu adanya bantuan mau berbentuk apapun itu supaya warga kembali tertarik bergabung. Tapi bukan berdirinya bank sampah ini bukan sekadar mencari nasabah sebanyak banyaknya melainkan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya.

Sayang saat kedatangan saya ke sana sudah tidak terlihat barang barang yang di tampung di ruang Serba guna tersebut. Menurut informasi dari ibu benda hara barang barangnya baru saja di jual ke pengepul dan kegiatan untuk setor sampah di hentikan sementara karena ada renovasi Ruang serba Guna. Pantas saja saat saya kesan tidak tampak tanda yang menunjukan keberadaan bank sampahnya. Biasanya kalau hari jumat dan minggu pukul 09.00 - 11.00 wib tempat ini ramai oleh nasabah yang setor sampahnya.

BERJUANG LEWAT BANK SAMPAH

Keindahan dan kebersihan adalah dambaan bagi setiap orang. Sebenarnya banyak yang ingin merasakan hal itu. Namun entah mengapa, pemandangan itu nampaknya hanya terlihat di sebagian kecil tempat di negeri ini. Sampah menjadi hal utama yang menjadi topik pembicaraan dimana mana saat ini.


Hari kamis tepatnya pukul 11.54 wib. Saya baru saja sampai di wilayah kelurahan Padasuka Kota Bandung.Setelah berkeliling sekitar 15 menit, akhirnya saya menemukan rumah Bu Yeyet. Beliau adalah pengelola Bank sampah di Rw 13. Waktu itu saya bertemu seorang Bapak yang sedang mengerjakan sablon baju, tepatnya di samping rumah Bu Yeyet. Ternyata Beliau adalah suami dari Bu Yeyet sekaligus pencetus Bank sampah di Rw 13.


Seperti biasanya kebanyakan tuan rumah akan mempersilahkan masuk kedalam rumahnya. Begitupun dengan Beliau, meski sedang sibuk masih mau meneyempatkan waktunya menjamu saya. Kebetulan hari itu Bu Yeyet sedang tidak ada di rumah, jadi yang menerima saat itu suaminya. Obrolan itu pun di mulai seperti biasanya dengan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu serta maksud kedatangannya ke rumah Bu Yeyet. Nampaknya suami bu Yeyet cukup antusias setelah mendengarkan maksud saya datang kerumahnya.


Sambil duduk kami pun awalnya berbincang tentang kondisi di Rw 13. Seperti kebanyakan daerah lainnya di sana pun isu lingkungan menjadi hal yang sering di bicarakan. Karena melihat kondisi wilayahnya yang di apit  sungai kecil dan sungai besar, Sampah masih bisa terlihat di sepanjang aliran sungai di sana, bahkan terbilang sudah seperti pemandangan yang biasa.

Awalnya pada tahun 2012, Sebagai ketua Rt 07 di lingkungannya, Pa yoyo memberanikan diri mendirikan bank sampah yang saat itu namanya itu belum booming seperti sekarang ini. Bersama warga yang biasa bersih bersih lingkungan, akhirnya impian itu terwujud mulai dengan datangnya respon positif yang datang dari masyarakat sekitar. Berawal dari iseng iseng Pa yoyo dan warga yang selalu memilah sampah dari rumah tangga, tercetuslah Bank sampah Mandiri 13 yang bermakna Bank sampah yang berdiri sendiri di wilayah Rw 13. Bertempat di kediaman pribadinya biasanya Pengelola bank sampah berkumpul. Namun untuk barang sendiri di simpan di ruang serba guna, sedangkan untuk setiap setoran sampahnya masih menggunakan lahan kosong di dekat rumah Pak Rw 13.

Tempat warga menyetorkan sampahnya

madding bantuan dari Pikiran Rakyat
Tempat yang terbilang tidak terlalu besar ini selalu di jadikan pusat kegiatan Rw 13. Apalagi kalau hari jumat warga biasanya melakukan jumsih atau sekarang kerennya dengan sebutan gerakan pungut sampah. Penerimaan sampah di sini sengaja mengambil hari jumat karena di saat warga sedang kumpul. Dari sinilah terbentuknya kesadaran warga dan informasi tentang bank sampah sering di gaungkan kepada warga. Biasanya warga berkumpul untuk setor sampah dari pukul 07.30 - 11. 30 wib, dan warga pun membantu untuk memilah sampahnya.

Kesungguhan Pa yoyo memperjuangkan kebersihan lingkungannya cukup membangunkan hati warga sekitar, meski tidak semuanya warga merespon kegiatan positif yang di lakukan beliau. Semangatnya masih terus ada, salah satunya beliau membuatkan kaos bagi pengelola serta nasabah Bank sampah yang di berikan secara cuma cuma dengan merogoh uang pribadinya. Keinginan beliau melihat lingkungannya bersih terus di upayakan bersama warga lainnya. Sekarang hasil dari bank sampah di sana selain di bagikan uangnya bagi warga yang sudah mempunyai tabungan hasil dari sampahnya, Pa yoyo juga telah memberangkatkan nasabahnya wisata sebanyak 2 kali ke Pantai Pangandaran. Semuanya itu hasil dari tabungan warga yang beliau kelola. Sekarang pengelolaannya di serahkan kepada Bu Yeyet selaku istri beliau.

Banyak harapan yang di sampaikan Pa yoyo seperti ingin adanya bantuan alat pencacah plastik, mesin press supaya bisa memberikan nilai lebih bagi sampah yang di kumpulkan warga serta dapat memberdayakan warga. Bagi siapapun yang ingin menjadi nasabah di sana terbuka bagi siapapun untuk bergabung menjadi anggota dengan datang langsung ke Alamat sekertariat bank sampah Mandiri Berada di Jl. Babakan H. Tamim 8 no 1 Rt 07/13 kel. padasuka Kec. cibeunying kidul Kota Bandung.

BERKARYA DENGAN BANK SAMPAH

Baru saja di bentuk sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya di awal tahun 2015. Bank sampah yang namanya di ambil dari nama sebuah daun yang bernama teratai. Kini di kota Bandung bertambah satu lagi bank sampah. Meski berlokasi di gang sempit tidak membuat warganya  rendah diri. Waktu saya berkesempatan berkunjung ke tempatnya yang berlokasi di jl.babakan andir no.45/208 B RT 05/02 kel.padasuka kec.cibeunying kidul Kota Bandung. Saya awalnya kebingungan dengan lokasinya, tapi berkat nanya kepada seorang bapak yang sedang mengecat kantor serba guna saat itu, Alhasil saya bisa bertemu dengan Ibu H lilis heryani sebagai ketua bank sampah teratai.

Ternyata beliau adalah istri dari bapak yang tadi saya sempat nanya alamat. Jalan saya untuk berkunjung ke tempatnya sepertinya di berikan kemudahan. Bertempat di rumah pribadinya ibu H. Lilis mulai bercerita. " Disinilah tempat ibu mengelola bank sampah teratai.Di bantu oleh 10 orang teman ibu ",ujarnya.

waktu pertama kali mendengar kata bank sampah warga di babakan andir belum semuanya tahu.Di bantu oleh Pak sugiri selaku penasihat  bank sampah teratai ,kini beberapa warga mulai familiar dengan nama itu.
inilah suasana di Bank sampah teratai

Bank sampah teratai sudah dilengkapi Biodegester

Barang hasil setoran warga



Sekarang ibu ibu Pkk di sini selain melakukan gerakan pungut sampah (gps) di setiap hari jumat pagi juga beramai ramai memilah sampah  hasil setoran warga ke bank sampah teratai. Waktunya dari pukul 07.00 - 11.30 wib. Nasabah yang terdaftar sampai bulan juni 2015 tercatat sudah mencapai 20 orang.Barang yang biasa di setor warga disini baru gelas plastik air mineral dan dus.Semua barang hasil setoran di tampung di rumah pribadi Ibu H Lilis. Untuk hasil tabungan warga disini bisa di ambil kapan saja.


Minggu, 05 Juli 2015

REPARASI SEBAGAI PILIHAN

Barang rusak jangan di buang

Bagi sebagian orang, mungkin barang yang sudah jarang dipakai akan di buang atau di simpan di gudang. Padahal jika mau saja  datang ke tempat reparasi akan beda ceritanya. Sekarang ini jasa reparasi mudah di temukan di mana mana. Biasanya jasa reparasi itu kebanyakan barang elektronik, tapi sekarang saya ingin berbagi cerita jasa reparasi sepatu dan tas. 


Namanya Pak Maman ( 70 ) sosok kakek yang sudah tua tapi masih begitu terlihat bugar sedang fokus mereparasi sepatu di kios kecilnya. Siang itu matahari sedang berada di puncaknya. Terlihat beberapa toko mulai tutup, karena hari itu masih di bulan puasa. Namun ada satu yang masih buka yaitu kios milik Pak maman. Kios yang berukuran 1m x 1,5m ini tampak berjejer jaket kulit, tas dan sepatu. Memang Pa maman sendiri menerima jasa reparasi itu sejak tahun 1985.


Awalnya Pak Maman tidak membuka kiosnya di gg. simpang. " Dulu mah tahun 85-an awal awalnya keliling pindah pindah tempatnya ", ucapnya. Dulu tahun 1960 Pak maman bekerja sebagai pembuat sepatu di sebuah toko di kota jakarta.Dengan berbekal pengalaman membuat sepatu, Pak Maman memutuskan pindah ke kota Bandung dan bekerja di toko sepatu eksotik yang berada di kawasan jalan riau. Bekerja sebagai pembuat sepatu lagi lagi berhenti di tengah jalan karena produksi yang semakin sedikit dan toko di nyatakan bangkrut.


Seiring dengan tutupnya toko di tempat Pak maman bekerja, maka  karyawan di berhentikan. Tepat di tahun 1985 menjadi awal menjalani profesi sebagai Tukang Reparasi sepatu. Dengan modal keahliannya di bidang sepatu inilah yang menjadi pemicu semangat untuk tetap berada di bidang sepatu.Karena ingin mempunyai tempat yang tetap, akhirnya Pa maman mencoba meminta izin ke saudaranya untuk membuka kios di lahan miliknya. Alhasil mimpinya menempati kios itu tercapai, meski ukurannya kecil. Sejak 25 tahun berkeliling, tepatnya pada tahun 2005 Pak maman baru pindah ke kios milik saudaranya dengan sistem sewa. Kios kecilnya berada di depan grosir bahan sembako yang berlokasi di jl.kiaracondong Gg.simpang ert 03/07 kel.Babakan Surabaya kec.Kiaracondong Kota Bandung. Patokannya berada di belakang bandung trade mall. Ini suasana kios milik Pak Maman

Kios kecil tempat Pa Maman bekerja

Pa Maman dan sendal yang sedang di reparasi



Dari sinilah Pak maman bisa menyekolahkan ke enam anaknya sampai ke tingkat sma.Sehari penghasilannya dari jasa repaasinya ini bisa meraup Rp.150 ribu. Tapi kalau sepi kadang sampai tidak ada uang yang bisa di bawa pulang. Di kiosnya ini Pak maman biasa menerima jasa reparasi berbagai sepatu , sendal dan tas. Dengan mematok harga yang bervariasi mulai 15 ribu - 20 ribu gimana tingkat kerusakannya. Kiosnya Buka setiap hari dari 08.00 - 16.30 wib. 

Pesan Pak maman kalau punya barang seperti Sepatu bekas atau tas bekas dari pada di buang lebih baik Reparasi.
semoga cerita ini bermanfaat dan menjadi inspiras bagi saya pribadi dan pembaca.

Jumat, 03 Juli 2015

HAYU NGURUS BANK SAMPAH

Bank sampah sekarang ini sudah mulai ramai di bicarakan orang orang. Di Kota Bandung sendiri karena ada himbauan dari pemkot setiap RW mempunyai bank sampah. Salah satunya di RW 10 kelurahan Padasuka ada warganya yang menginginkan  berdiri bank sampah di tempatnya. Tepat pada akhir tahun 2014 Bank  Sampah RW 10 mulai beroperasi.

Pengelola bank sampah ini di percayakan kepada ibu cucu sebagai ketua bank sampah RW 10. Saya sendiri tahu keberadaan bank sampah ini dari warga RW 11 yang kebetulan waktu survey ke tempatnya. Berdasarkan informasi dari warga tersebut yang membuat saya ingin bertemu pengelola sekaligus ingin tahu tempatnya. Dari hasil bertanya ke warga sekitar alhasil saya tahu tempat kediaman bu Cucu. Waktu sampai rumahnya, kebetulan Bu Cucu sedang tidak sibuk, tapi kelihatannya mau pergi. Dengan baju yang sudah rapih dan wangi beliaupun mempersilahkan untuk masuk ke rumahnya. Namun perasaan saya kurang enak karena melihat beliau yang kelihatannya akan pergi. Mungkin bagusnya nanti saja pertemuan ini di lanjut. " Aa, kira kira lama ga ngobrolnya soalnya ibu teh mau pergi dulu ke kelurahan, ini juga sudah terlambat,"Ucapnya. Akhirnya saya bilang ke beliau kalau wawancaranya besok saja itu juga kalau ibu ga sibuk. Sebelum pamit untuk pulang saya di beri nomer yang bisa di hubungi oleh Bu Cucu.


Bulan juli baru saja datang tepatnya 1 juli. Saya kembali pergi untuk menemui Bu Cucu. Kali ini rumahnya tampak sedang dalam renovasi. Suami bu Cucu langsung mempersilahkan saya untuk masuk kedalam rumahnya. Terlihat bu cucu sedang sibuk mengisi lembaran lembaran data warga. Lagi lagi perasaan saya ga enak, takutnya mengganggu di tengah kegiatannya. Bu Cucu akhirnya menerima saya dan meluangkan waktunya untuk wawancara.

Menurut Bu cucu Bank sampah yang di kelolanya belum begitu besar dan masih dalam tahap belajar. Masih perlu sosialisasi ke warga supaya tahu keberadaan bank sampahnya. Karena kesibukan masing masing para pengurus makanya bank sampah ini pengelolaannya belum begitu maksimal. Sekarang ( 01/07/2015 ) kepengurusan bank sampah ini di isi dengan 3 orang anggota dan 19 orang nasabah. Kedepan menurut Bu Cucu harus ada inovasi biar warga tertarik untuk terlibat langsung di bank sampahnya. Sampah rumah tangga dari warga untuk sementara di tampung d ruang serba guna RW 10.
lokasi gedung serba guna
  
Waktu saya berkunjung ke tempat ini, kebetulan kata bu cucu karena mau menjelang lebaran jadi sampah hasil pilahnya sudah di jual ke bandar rongsok. Sekarang uang yang terkumpul sudah mencapai Rp. 300.000,.00 dan akan di bagikan ke beberapa nasabah. Meski sebelumnya nasabah di bank sampah RW 10 ini tidak meminta imbalan dari hasil sampah yang di kumpulkannya. di sini juga hasil dari tabungan warga yan terkumpul tidak akan dalam bentuk uang tapi sembako. Semua itu hasil dari barang yang di kumpulkan nasabah. Sampah yang di terima di sini di antaranya
Botol  Plastik - kg - Rp. 1200
Kardus - kg - Rp. 3500
Gelas plastik air mineral - kg - Rp.3000
emberan - kg - Rp. 2000
koran - kg - Rp. 1200
Besi - kg - Rp. 1000
Kaleng - kg - Rp.1200
botol kaca - kg - Rp. 150

Dari semua Sampah yang terkumpul itu biasanya ada yang menjemput dari pihak lapak rongsokan untuk mengambil sampahnya. Harga sendiri berubah ubah tiapa waktunya, apalagi menjelang lebaran biasanya harga turun. Harapan Bu Cucu warga semakin banyak yang jadi nasabah dan lingkungan juga semakin bersih.Ajakan untuk ngurus bank sampah terus di suarakan oleh Bu cucu kepada warganya. Dan Bila ingin menjadi Nasabah di Bank sampah RW 10 bisa datang langsung ke lokasi. Patokannya bisa lewat JL. P.h.h Mustofa atau Jl. Ahmad yani. Lokasi lengkapnya Jalan sekepondok 2 Rt01/10 kel.padasuka kec. cibeunying kidul Kota Bandung. Bank sampah Buka Setiap Hari rabu dan minggu ( 09.00 - 15.00 wib ).

SEMANGAT BANK SAMPAH DARI SEORANG IBU

Waktu itu jam menunjukan pukul 09.30 wib. matahari sudah mulai nampak memancarkan sinarnya. Jalanan masih tampak belum terlalu ramai, mungkin karena masih bulan ramadhan. Begitupun dengan jalanan di sekitar padasuka.

Saya hari itu harus mengerjakan beberapa tugas, salah satunya survey tempat baru. Tempat yang harus saya survey ini berada di kelurahan Padasuka. Lewat media sosial Twitter saya mendapatkan informasi bahwa di sana terdapat bank sampah terbanyak tingkat kelurahan di kota Bandung. Bank sampah menjadi target saya saat itu karena semangat masyarakat di kota ini sudah mulai terbangun.

Awalnya saya menuju jalan padasuka yang ke arah saung angklung udjo, tapi berkat nanya ke bapa pengatur lalu lintas di sana kalau semakin ke atas sudah bukan wilayah kota lagi. Akhirnya saya memutuskan untuk putar arah menuju padasuka bawah. Hal pertama yang saya lakukan saat itu adalah mencari kantor kelurahan. Bagi saya kantor kelurahan adalah pusat informasi yang bisa memberikan jawaban pada saat itu. Sesampainya di kantor kelurahan saya di terima oleh seorang ibu yang dengan ramah memberikan pelayanannya. waktu saya tanya mengenai bank sampah di wilayahnya dengan sigap beliau mengantarkan saya langsung ke lokasi pertama bank sampah yang kebetulan lokasinya ada di depan kantor kelurahan. Memang keberadaannya tidak terlalu kelihatan karena hanya di pasang spanduk yang kecil, itupun di rumah pribadi.

Lokasi Bank sampah mandiri
Tempatnya berada di jalan Padasuka no. 13 Rt 03/01 kel. padasuka kec. cibeunying kidul Kota Bandung


Bertemu pemilik Bank sampah memang sesuatu yang membuat saya senang karena bisa mendapatkan data yang lebih akurat di saat survey. Rumah yang tampak sederhana dan seorang ibu yang juga terlihat murah senyum itu adalah pemandangan di pagi itu. Namanya ibu Eli pemilik rumah itu sekaligus pendiri Bank Sampah Mandiri. Kedatangan saya di sambut hangat dengan menyuruh masuk kedalam rumahnya.Namun saya lebih memilih di teras rumahnya biar tidak menggangu keluarga yang ada di dalam rumahya. Kata bu Eli awal berdirinya Bank sampah Mandiri pada tahun 2011. Tadinya idenya muncul karena banyak sampah rumah tangga yang di buang begitu saja. Dengan mengajak ibu ibu untuk memulai memilah sampah di rumahnya alhasil mereka mau di ajak kerjasama. "Awalnya ibu ibu itu ngasih sampahnya, tapi yang sudah di pilah dan tidak meminta imbalan sedikitpun. tapi karena bentuk rasa terima kasih saya kasi sembako, ya sekadar hadiah aja ," ucapnya.


Berharap munculnya kesadaran warga itu yang Bu eli inginkan setelah adanya bank sampah. Sedikit demi sedikit hasilnya mulai terlihat. Seiring berjalannya waktu nasabahnya terus bertambah sekarang sudah mencapai 40 orang. Pengelolaanya di bantu oleh 11 orang ibu ibu pkk di kelurahan Padasuka. Kerjanya memilah dan menimbang sampah. Sekarang mulai banyak bantuan dari pihak swasta yang datang ke Bank Sampah Mandiri di antaranya dari unilever dan Pikiran rakyat. selain itu juga Bank sampah mandiri mendapatkan bantuan biodegester alat pengolahan untuk sampah. seperti ini alatnya


Biodegester

Mading sumbangan dari Pikiran rakyat

Jika ingin menjadi Bank sampah Mandiri bisa langsung datang ke lokasi. waktu operasionalnya hari minggu mulai pukul 12.00 -  selesai.

Sabtu, 27 Juni 2015

SOLUSI MENGATASI SAMPAH DARI GANG SAMSI

Gang Samsi , Bandung


Namanya juga sampah,Mungkin ini salah satu nama yang paling terkenal di seantero bumi ini. Negara maju atau negara tertinggalkan pun mengenal dengan istilah ini. Keberadaannya yang selalu di sepelekan oleh sebagian orang, ternyata membawa dampak buruk jika di biarkan.Dampak yang akan di rasakan cukup besar bagi kelangsungan penduduk bumi. Semakin hari namanya terus ada dimana mana, keberadaannya pun semakin nyata.


Zaman yang semakin berkembang tidak membuat namanya hilang di muka bumi. Kemajuan teknologi pun belum bisa mengatasi masalah ini. Seiring dengan gaya hidup yang semakin praktis dan teknologi semakin maju, ternyata menjadi salah satu penyebab banyaknya sampah di bumi. Gaya hidup yang ingin serba praktis membuat orang malas dengan sesuatu yang memberatkan, contohnya saja ketika berbelanja ke pasar atau ke warung, sudah jelas kita bakal memproduksi sampah sadar atau tidak sadar. Padahal jika ingin sedikit saja berusaha untuk membawa Tas belanja sendiri, paling tidak bisa mengurangi produksi sampah kita. Cap yang di berikan biasanya kesan jijik untuk sampah itu sendiri, membuat banyak orang malas jika harus berhubungan dengan yang namanya sampah.


Sekarang nampaknya kita boleh sedikit mempunyai harapan, lambat laun ternyata sudah banyak gerakan ataupun individu yang mulai peduli terhadap permasalahan sampah ini. Mulai dengan gerakan yang sederhana sampai menciptakan teknologi canggih untuk mengatasi masalah sampah, kini sudah banyak hadir dimana mana. Tapi apapun itu teknologinya tanpa di ikuti kesadaran warga hasilnya tidak akan bisa cepat merubah dari keadaan.


Hadirnya Bank sampah di negeri ini, menimbulkan secerca harapan bagi kita semua. Sekarang Bank sampah sudah menyebar sampai ke penjuru negeri. Salah satunya yang ada di pemukiman padat penduduk di Kota Bandung. Namanya Bank sampah Bibilintik. Satu dari sekian banyak bank sampah yang berdiri saat ini. Berada di Jalan ahmad yani, Gang samsi v RT 03/07 Kel. Kebon waru Kec. Batununggal. Pemukiman padat penduduk ini mempunyai masalah dengan namanya sampah, masih sama seperti kebanyakan tempat lainnya.


Berawal dari datangnya perwakilan dari Daun kelapa cares ke tempat ini, dengan tujuan menawarkan program penghijauan dan Bank sampah bagi warga Gang samsi. Sebelumnya pun ada beberapa warga juga yang punya rencana program pengolahan sampah di wilayahnya. Bukan sesuatu yang kebetulan, hadirnya Daun kelapa cares sebagai Yayasan yang kan membantu mewujudkan hadirnya bank sampah di wilayah ini. Sambutan positif dari warga dengan rencana berdirinya bank sampah terus berdatangan. Persiapan yang di lakukan oleh Jajaran pengurus Rw dan daun kelapa cares berbentuk sosialisai yang di lakukan selama 2 bulan. sekarang selain warga RW 07, intansi yang menawarkan untuk menjadi anggota bank sampah datang dari lapas kebon waru dan puskesmas ibrahim adjie. Meskipun sosialisasi yang di lakukan belum maksimal, tapi keikutsertaan warga sudah mulai terlihat. Beberapa diantaranya keterlibatannya di kepengurusan bank sampah. Berjumlah 8 orang yang terdiri dari karangtaruna , Pkk,pengurus RW, dkm  dan hansip.


Akhirnya bank sampah bibilintik resmi di didirikan Januari 2015, dengan nasabah sementara 75 orang. Selama 5 bulan Daun kelapa cares akan terus menjadi pendamping di Bank sampah bibilintik.

Peresmian bank Sampah Bibilintik


 Bertempat di ruang serbaguna RW 07 untuk sementara.

Tampak depan Bank sampah Bibilintik


 Berada di pemukiman padat penduduk dengan status lahan sebagian besar bukan hak milik ini yang membuat pengurus bank sampah berharap adanya perhatian dari semua pihak yang bisa membantu untuk mencarikan tempat yang status lahannya hak milik. Supaya keberadaan bank sampah ini bisa terus ada di tengah masyarakat. Inilah beberapa contoh sampah yang di terima di Bank sampah Bibilintik









Pengumpulan bank sampah di sini biasanya pada waktu hari minggu mulai pukul 13.00 - 17.00 wib.Untuk sistem pengambilan tabungan Bank sampah Bibilintik mempunyai program pencairan tabungan 1 tahun sekali atau setlah hari raya idul fitri. Tapi jika ada warga yang membutuhkan uang nya bisa di ambil kapan saja. Distribusi sampah ini nantinya akan di jual ke bandar rongsok dan sebagian di jadikan kerajinan tangan. Kini Bank sampah Bibilintik sudah mulai di kenal masyarakat luas.